mencegah hama dan penyakit pada budidaya padi
Tips Pencegahan Serangan OPT pada Padi

Petani padi diperkirakan kehilangan rata-rata 37% hasil panen mereka setiap musim tanam. Salah satu faktor utama yang menyebabkan menurunnya hasil panen padi yakni adanya serangan hama dan penyakit setiap.

Solusi untuk menekan serangan hama dan penyakit pada tanaman padi di sawah salah satunya mengerti mengenai teknis budidaya padi yang tepat. Selain pengelolaan tanaman yang baik, diagnosis yang tepat waktu dan akurat dapat mengurangi kerugian secara signifikan.

Cara Pencegahan Serangan Hama dan Penyakit Padi di Sawah

Sebagai langkah pencegahan, berikut kami berikan tips mencegah serangan hama dan penyakit padi di sawah. Tips di bawah ini tidak sepenuhnya mencegah 100%, tapi setidaknya sebagai langkah preventif untuk menekan serangan OPT dan meningkatkan hasil panen.

1. Selalu Menjaga Sanitasi (Kebersihan) Lahan dan Alat Pertanian

hama tikus pada padi
Hama tikus, menyerang hampir pada semua fase tanaman padi

OPT khusunya penyakit dapat menyebar antar bidang atau antar musim jika kita tidak melakukan tindakan pencegahan yang tepat. Setelah panen, pastikan untuk tidak meninggalkan rumput-rumput yang dapat menjadi inang bagi patogen tanaman. Selain itu, pembersihan lahan dapat memutus tempat perkembangbiakan hama seperti tikus dan serangga.

Beberapa penyakit bahkan bisa menular ke tanaman yang sehat melalui alat yang biasa dipakai petani. Setelah panen sebaiknya juga memeriksa lubang-lubang tikus dan dilakukan pengemposan.

2. Gunakan Benih Yang Tahan dan Bebas OPT

Penggunaan benih padi bersertifikat sangat dianjurkan pada budidaya padi. Tapi apabila kita tidak bisa mendapatkan benih bersertifikat, gunakan benih yang berasal dari tanaman yang bebas OPT, khususnya penyakit.

Ada banyak kasus di lapangan petani hanya menggunakan benih padi yang diperoleh dari musim tanam sebelumnya (turunan), tak peduli tanaman tersebut pernah sakit atau tidak.  Sebenarnya cara tersebut sangat salah, kami katakan demikian karena OPT dapat menyebar pada media apapun, termasuk dari benih yang ditanam.

Ada banyak varietas padi tahan penyakit yang tahan terhadap hama dan penyakit, salah satunya Inpari 42 yang tahan terhadap wereng biotipe 1, kresek dan blas (Baca artikelnya di Deskripsi Varietas Padi Inpari 42 dan 43 Agritan GSR. Agar lebih meyakinkan, hubungi petugas pertanian setempat untuk mengetahui varietas unggul lokal yang tahan OPT.

3. Waktu Tanam dan Panen Antar Lahan Antar Petani Sama

mencegah hama di sawah
Walang sangit, hama utama padi pada fase produktif

Beberapa jenis serangga hama menyerang secara spesifik setiap fase tanam. Menanam dan memanen dalam waktu yang sama antar lahan dapat mencegah dan memutus rantai hama, khususnya serangga.

Toleransi keterlabatan waktu tanam yang direkomendasikan oleh IRRI yakni 1-2 minggu. Lebih dari itu akan sangat beresiko terjadinya ledakan hama dan penyakit yang menyerang bidang lahan yang terlambat melakukan penanaman.

4. Dilarang Keras Berlebihan dalam Menggunakan Pupuk Kimia, Khususnya Urea

Penggunaan pupuk nitrogen (urea) faktanya memang akan membuat tanaman lebih subur dan hijau. Tapi hati-hati dalam penggunaan dosis, seringkali tanaman yang terlihat lebih hijau dan subur sangat disukai oleh hama dan penyakit. Tanyakan ke penyuluh atau petugas setempat mengenai rekomendasi pemupukan yang tepat spesifik lokasi.

Baca Juga: Penyakit Blas Atau Patah Leher Pada Padi Serta Cara Pengendaliannya

5. Tingkatkan Populasi Musuh Alami

Penggunaan pestisida yang berlebihan seringkali terjadi di kalangan petani. Alih-alih menurunkan populasi hama, perkembangan hama semakin meledak dan meluas akibat musuh alami yang terkena dampak pembunuhan masal oleh pestisida.

Ada banyak cara untuk meningkatkan peran musuh alami. Diantaranya menanam tanaman yang sangat disukai oleh mereka di sekitar persawahan seperti tanaman refugia. Manfaat tanaman refugia akan dibahas di lain waktu.

tanaman refugia mencegah hama di padi sawah
Bunga matahari, salah satu tanaman refugia mencegah hama di padi sawah

6. Menyimpan Benih Pada Tempat Yang Tepat

Usahakan untuk menyimpan calon benih pada kadar air di bawah 13% dan tempat yang tersanitasi dengan baik. Bersihkan benih sebelum disimpan sehingga bebas dari debu, sekam atau butiran rusak yang berlebihan.

Area penyimpanan harus bersih, memiliki lantai (tidak langsung di tanah) dan dinding yang kedap air hujan. Agar benih tetap berkualitas baik saat ditanam, usahakan untuk jangan meyimpan benih dari 6 bulan. Jangan simpan benih baru di samping benih tua yang penuh dengan hama gudang.

Sekian artikel mengenai cara mencegah serangan hama dan penyakit di sawah. Tuliskan juga saran dan pengalaman anda bertani di sawah di kolom komentar di bawah ini. Salam Wong Tani.

BAGIKAN
Berita sebelumyaKompos vs Pupuk Kandang, Mana Yang Terbaik?
Berita berikutnya5 Cara Memanfaatkan Abu Kayu Untuk Pertanian
Arriyadh Prayugo lahir di Banyuasin, pada hari ke sepuluh di bulan Juni, 1995. Saat ini sedang menempuh pendidikan akhir S1 di Universitas Sriwijaya Program Studi Agroteknologi spesialis Budidaya Pertanian. Aktif di beberapa kegiatan dan konsultan pertanian. Penulis juga merupakan founder sekaligus pengurus LapakPetani.com dan BibitPalembang.id. Sosok yang memiliki ketertarikan dengan hobi membaca dan menulis melatarbelakangi berdirinya blog yang bertema "Artikel, ide dan edukasi" ini.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here